Guang Zhou

Kamis, 29 Juli 2010 20:36
Cina dengan segala keindahan dan keeksotikannya yang memukau, mampu membius jutaan wisatawan untuk berkunjung. Meski di Cina juga terkenal dengan produk-produk tiruan dari merek terkenal, tetap saja Cina menjadi salah satu jujugan wisata dan belanja dunia. Beberapa waktu lalu kontributor Malang Post Nuthayla Anwar* baru saja berkunjung ke Guang Zhou, Cina. Berikut kisah dan gambar-gambar yang bisa kita nikmati.Tidak pernah terlintas dalam benak saya, akan jatuh cinta dengan Guang Zhou ibukota Provinsi Guangdong, salah satu provinsi di Selatan Negara Cina. Memang harus jujur saya akui, Negara Cina sebelumnya tidak termasuk dalam daftar negara yang ingin saya kunjungi untuk berwisata. Ya, karena berwisata bagaikan memoleskan make up ke wajah hati. Kita harus memastikan, selepas mengunjungi suatu negara ataupun kota, hati kita akan terasa ceria dan jiwa kita menjadi lebih bugar dan cantikKarena itu, tujuan wisata hendaklah memiliki keunikan daya pikat.
Entah alamnya yang bak gadis menawan , kehidupan masyarakatnya yang berbeda , karisma sejarahnya, atau yang paling penting khususnya bagi perempuan, adalah tempat itu harus menjadi surga belanja. Wisata tanpa belanja ? Bagi saya seperti wajah tanpa gincu. Pucat. Dan riasan hati kita menjadi kurang sempurna he..he….
Cina terkenal sebagai negeri berpenduduk padat yang sibuk mencetak duit melalui produk produk ‘asal jadi’ mereka. Bicara tentang Cina, pasti tidak jauh dari soal bisnis dan uang. Memang pendapat itu tidak dapat disalahkan. Bagaimana tidak ? Dari begitu banyaknya kota di seluruh provinsi Cina, semuanya dipenuhi pabrik. Mungkin ada baiknya kita mengubah julukan terhadap cina, dari “Negeri Tirai Bambu” menjadi “ Negeri Asap Pabrik”.
Kalau pun orang ingin berwisata ke Cina, biasanya tujuan utama mereka adalah Beijing . Menyaksikan betapa kokohnya tembok cina membentang, mematri kisah sejarah mereka. Ataupun Shanghai yang molek. Namun, kedua kota ini hanya merupakan pemerah pipi pada wajah negeri Cina nan pucat berbedak asap.Tapi Guang Zhou atau juga dikenal sebagai Canton, adalah gincu.
Kota inilah yang menyerikan wajah Cina dan membuat wisata hati terias sempurna. Pada November tahun ini, kota ini akan menjadi tuan rumah Asean Games ke-16. Maka sejak awal tahun lalu berbagai persiapan telah dilakukan untuk lebih mempercantik kota ini. Sejak dari Baiyun Airport hingga hampir di sepanjang jalan, spanduk spanduk Asean Games telah terpampang.
Guang Zhou, atau orang Cina suka memanggilnya dengan “Sui”, adalah pintu gerbang selatan negeri Cina terhadap dunia luar. Dengan Sungai Mutiara, sungai ketiga terpanjang di Cina yang mengalir menyusuri kota, dan bermuara di Laut Cina Selatan, yang memisahkan kota ini dengan Hongkong dan Macau.
Bagi para pengusaha, mungkin daya tarik utama Guang Zhou adalah Canton Fair.

Pameran berkelas dunia yang digelar dua kali setahun. Memamerkan keperkasaan industri Cina, yang menarik orang dari seluruh dunia. Memukau mata seluruh bangsa, bahwa tidak ada satu benda pun yang tidak dapat dibuat oleh Bangsa Cina. Bahkan, membuat kita meragukan seluruh produk negara lain. Karena ternyata , made in apapun yang tertera pada barang yang anda beli,sebagian besar sebenarnya asal muasalnya juga dari “Negeri Pabrik” ini.(*)

Menyusuri Jejak Sejarah

Tapi bagi orang awam, Guang Zhou adalah kota yang artistik. Dengan jalan-jalan lebar berpagar gedung-gedung menjulang. Juga aliran Sungai Mutiara yang membawa perahu dan kapal kapal pesiar berlayar. Pohon pohon besar berselang seli dengan pohon pohon mangga memayungi trotoar. Mobil dan sepeda bersileweran. Orang orang yang berjalan cepat berpacu dengan jarum jam. Merupakan lukisan hidup yang menawan.

Guang Zhou, adalah bukti kejayaan tiga dinasti, Dinasti Zhou, Dinasti Qin dan Dinasti Han. Kota ini juga merupakan tempat kelahiran “Jalan Sutera”, jalan perdagangan antara timur dan barat pada zaman dulu kala.

Sejarah perjuangan revolusi modern Cina yang dipelopori Dr. Sun Yat Sen juga lahir di kota ini. Maka tak heran kalau Guang Zhou juga diberi gelar “ Famous Cities of Chinese History and Culture”.

Untuk menelusuri sejarah panjang Kota Guang Zhou, Hall of Ancient Culture and Arts, Guang Zhou Museum, An Ancient Ancestral Hall, A Gem Gardens, Temple of Nanhai God , Sun Yat Sen Memorial Hall, dan masih banyak lainnya, adalah tempat tempat sejarah yang dirawat dengan rapi dan dibuka untuk umum hanya dengan tiket masuk kurang lebih 15 remon bee (sekitar Rp 20 Ribu) per orang.

Namun yang paling menarik perhatian saya, adalah sisa-sisa fondasi dari Kerajaan Nanyue pada zaman Dinasti Han. Peninggalan sejarah yang menakjubkan ini, terletak di bawah tanah. Dengan di lapisi kaca tembus pandang, sisa sisa sebuah kerajaan dapat kita lihat di bawah kaki . Uniknya, tempat ini terletak di Beijing Road, pedestrian street.

Sebuah jalan panjang yang dipenuhi pertokoan besar dan kecil juga kaki lima, yang menjual segala macam barang dari mulai pakaian,tas, sepatu, mainan, aksesoris, elektronik, sampai barang barang dari kulit asli.

Beijing Road , adalah tempat sasaran utama para turis. Jalan yang rimbun dengan pepohonan besar, air air mancur yang menyembur dari lantai.

Sejarah yang tersimpan apik di bawah tanah berlapis kaca, barang barang murah dan ramainya manusia.Tapi, disini juga penuh dengan calo yang membuntuti kita untuk menawarkan barang duplikat dari merk merk ternama. Kalau tidak tegas menolak, maka mereka tidak akan membiarkan mangsanya melenggang dengan tenang.

Selain Beijing Street, ada pula jalan lain yang serupa dengannya, seperti Liuxingqianxian, dan Shangxiajiu Pedestrian Street. Bedanya, di sini tidak terdapat peninggalan sejarah dan para calo tidak akan membuntuti.(*)

Siap-Siap Belanja dan Makan

Ada pula tempat belanja yang lebih berkelas dengan barang-barang berkualitas tinggi dan harga yang pantas. Setiap perempuan akan hanyut dalam arus berbelanja, sementara para suami mungkin akan memegang erat dompet mereka agar tidak ikut hanyut bersama istri mereka.
Grandbuy Department Store, Grandview plaza , dan Teem mall adalah mall mall pilihan saya, untuk menguras isi dompet. Bila ingin mencari pasar khusus, di sini juga ada Pasar Mainan, Pasar Keramik, Pasar Batu Perhiasan dan Pasar Buku dan Barang Antik.
Ada hal penting yang mungkin mengganjal bagi seorang muslim jika bepergian ke Negeri Cina. Masalah makan. Namun di Guang Zhou, hal ini tidak menjadi masalah. Di sekitar jalan Tianhe, ada sebuah bangunan yang memiliki tiga buah restoran cina muslim. Mereka menyajikan makanan Xinjiang, suku cina muslim. Di Restoran Xinyue Muslim Food, semua makanan yang dihidangkan sangat lezat.
Dengan menu sebagian besar adalah kambing domba. Dimasak dengan bumbu bumbu khas yang agak pedas. Ada kebab, ada sambosa, dan nama nama lain yang asing ditelinga tapi lezat di lidah.
Di Restoran ini, hampir semua pelayannya berasal dari Xinjiang dan beragama muslim. Selain makanan yang lezat, pelayan pelayan yang menggunakan kostum tradisoinal, ada juga hiburan musik dan tarian tradisional yang dibawakan para gadis berwajah cantik . Jenis musik dan tarian mereka, hampir serupa dengan musik dari timur tengah, dan wajah mereka mirip dengan gadis gadis dari Uzbekistan.
Banyak juga restoran turki dan timur tengah lainnya. Di sepanjang jalan Huan Shizhong saja, begitu banyak restoran Turki berjejer. Lucunya, di kota ini, banyak saya temui orang orang Arab yang telah menetap puluhan tahun bahkan menikah dengan warga setempat. Sehingga jangan kaget bila orang orang berhidung mancung dan bermata besar ini, begitu fasihnya berbicara mandarin.Untuk keindahan alam, Guangzhou memiliki great Hill Ecological Garden village, yang penuh dengan warna warni bunga dan rindangnya pepohonan.
Juga White Cloud Mountain,gunung yang paling terkenal terletak di selatan daerah Guangdong. Gunung ini juga dinamakan paru parunya kota Guang Zhou.
Sebagai gincu Negara Cina, Guang Zhou sangat patut dikunjungi. Walaupun taksi taksi di sana yang mengurung pengemudinya dengan teralis besi dengan alasan keamanan, selalu berjalan ngebut dan memotong kiri kanan, saya tidak takut.
Meski supir taksi tidak bisa berbahasa Inggris,bukan masalah. Saya selalu mengantongi kartu nama hotel ataupun alamat tujuan yang dituliskan dalam bahasa mandarin oleh resepsionis hotel.
Sehingga, begitu duduk dalam taksi, sodorkan tulisan, sang supir mengangguk, maka meluncurlah kendaraan.Biarpun dalam proses tawar menawar, saya selalu menggunakan kalkulator sebagai sarana menunjukkan harga yang saya inginkan. Saya selalu berhasil memiliki barang yang saya mau.Dan, setelah mengunjungi kota ini empat kali, saya masih ingin kembali ke sana. Guang Zhou, aku jatuh cinta !(*)

Nuthayla Anwar Cerpenis, pengusaha kuliner di Jakarta dan penyuka traveling saat ini tinggal di Shah Alam, Malaysia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: