Kita Harus Belajar ke Negeri Cina

Jumat, 28 Mei 2010 19:05
PEKAN lalu, General Manager Malang Post H Sudarno mendapat kesempatan untuk melihat dari dekat Shanghai Expo 2010 yang berlangsung di kota Shanghai. Sebuah kota berpenduduk sekitar 20 juta jiwa yang sangat bersih, indah dan nyaman. Bagaimana suasana dan ada apa saja di sana, berikut laporannya.

Belajarlah ke Negeri China. Begitulah kata pepatah yang sudah sangat popular untuk memberi semangat betapa mencari ilmu bisa dilakukan dimana saja meski ke negara komunis seperti Cina. Ada apa dengan Cina sampai harus disebut-sebut sejak zaman nabi itu ?
Saya berada di Cina sekitar tujuh hari. Di negeri yang dijuluki sebagai negera Tirai Bambu itu, saya sudah dapat menyimpulkan betapa kayanya negeri itu. Betapa taatnya bangsa negeri itu terhadap budayanya.
Shanghai Expo 2010 meninggalkan sebuah kenangan yang manis yang tidak mudah terlupakan. Pameran level dunia yang masih menyisakan waktu lima bulan lagi itu, memang ‘wajib’ dikunjungi. Di tempat itu kita akan banyak belajar dan banyak mengetahui tentang negera-negera di dunia.
Di sana, kebanyakan orang Indonesia mengatakan ke Amerika tidak perlu terbang 24 jam. Ingin tahu Perancis, Brazil atau ingin tahu negara-negara  kecil Eropa Timur ? Cukup di Shanghai Expo 2010 tempatnya.
Penerbangan dari Surabaya ke Cina tidak terlalu melelahkan. Jika kita orang Malang atau Surabaya ingin melihat dari dekat Shanghai Expo 2010, cukup menghubungi biro perjalanan guna menempuh penerbangan sekitar enam jam.
Meski dijuluki sebagai negara ‘pemalsu’ terhebat di dunia, namun masyarakat Cina bangga dengan produk-produk nasionalnya. Mulai dari segala barang yang ada di kamar mandi hotel hingga di reservasi hotel semua bertuliskan Made in Cina.
Mobil besar seperti bus milik pemerintah yang digunakan sebagai angkutan umum dan para turis, juga Made in Cina. Hampir sebagian besar mobil pribadi yang melintas di jalan raya rata-rata bisa dikatakan  mewah. Jalanan berhias dengan mobil Audi, Mercy, BMW dan VW. Orang Cina VW minded. Taksipun ‘bermerek’ VW. Mulai dari VW model sedan hingga VW model MPV (di Indonesia seperti Toyota Avanza atau Zenia). Sangat sedikit mobil buatan Jepang atau Korea yang lalu lalang di jalanan kota internasional itu.
Belajar ke negeri Cina pasti sangat perlu. Tiga kata yang konon, terucap sejak 1500 sesudah masehi (SM) itu bisa dibuktikan. Orang Indonesia mengenal teknologi otomotif Cina paling popular adalah menjelang tahun 2000-an.
Ketika itu Indonesia digerojok produk sepeda motor Cina atau popular disebut Mocin. Padahal, Mocin yang diimpor ke Indonesia menurut Mr.Chan dan Mr.Ayung (dua guide) saya selama di Cina, adalah teknologi yang sudah lewat.(*)

Sepeda Motor Dilarang
Pemerintah Cina telah cukup lama mengenal dan membuat sepeda motor. Bahkan sudah hampir 10 tahun lalu pemerintahan Cina dengan tegas melarang sepeda motor beroperasi di jalan-jalan kota besar di Cina yaitu Beijing sebagai pusat pemerintahan dan juga dilarang beroperasi di Shanghai sebagai kota kedua setelah Beijing (Di Indonesia kota kedua terbesar adalah Surabaya).
Sepeda motor hanya diizinkan di kota-kota pinggiran Cina. Sedangkan sepeda motor yang beredar di dua kota itu adalah sepeda baterai dengan kekuatan mesin maksimal 50cc. Seperti sepeda baterai di Indonesia yang dijual seharga Rp 2.5 Juta hingga Rp 3,5 Juta per unit itu.
Pertanyaannya adalah mengapa sepeda motor dilarang beroperasi di dua kota itu ? Ternyata pemerintah Cina memberi perlindungan atas keselamatan rakyatnya karena mengendarai sepeda motor berisiko tinggi. Pemerintah Cina ingin Kota Beijing dan Shanghai bersih dari polusi asap sepeda motor dan pemerintah ingin dua kota itu tidak macet akibat sepeda motor.
Pemerintah setempat juga menyediakan jalan dan angkutan umum di bawah tanah kota Shanghai dan Beijing. Kereta api dengan kecepatan tinggi sekitar 350km per jam sudah tersedia di Kota Shanghai. Bisa dibayangkan, betapa cepatnya kereta cepat itu. Kereta yang terletak di bawah tanah itu menempuh perjalanan lebih kurang 30 km hanya dengan waktu sekitar delapan menit.
Jarak tempuh Kota Shanghai ke Bandara Shanghai Pudong International itu hampir sama dengan Kota Malang – Karangkates di Kabupaten Malang. Tiket kereta cepat itu 80Yuan per orang untuk sekali jalan atau sekitar Rp 120 Ribu. Jika perjalanan itu ditempuh PP tiketnya seharga 120 Yuan. Ada keringanan 40 Yuan. Penumpangnya selalu penuh, karena masyarakat Cina mengedepankan efektifitas.
Kereta api kelas ekonominya juga sangat bersih, tidak seperti kereta api ekonomi di Indonesia. Juga lebih bersih dan lebih indah dibanding kereta api bisnis di Indonesia sekalipun. “Hanya ada satu kata Cina luar biasa. Jakarta belum apa-apa. Kalau mau membangun Indonesia, pemerintah dan para wakil rakyat di Indonesia harus Belajar ke Negeri Cina,” kata Ivan Firdaus teman saya dalam perjalanan ke Cina.
Masyarakat yang tinggal di dua kota itu ekonominya sangat baik. Mereka kaya . Mereka tidak pusing dengan larangan bersepeda motor di Shanghai atau di Beijing.(*)

TV Tower Jadi Primadona
SHANGHAI memang kota internasional yang kaya budaya. Di kota itu pemerintah Cina mengeruk devisa dari wisatawan dan pedagang yang datang. Pemerintahnya amat konsisten dengan pembangunan sarana dan prasarana.
Pembangunan kota modern mulai tahun 1990-an menerobos sungai Yang Tze yang dilengkapi sebuah terowongan dalam sungai sepanjang 1.3 km menjadikannya sebagai kota bisnis berkelas dunia. Malaysia juga punya kota baru yang disebut Putra Jaya arah barat Kuala Lumpur. Tetapi pembangunan kota baru di Malaysia belum apa-apa dibanding keberhasilan Cina dalam membangun kota baru.
Berada di tepian anak sungai Yang Tze, kini berdiri banyak bangunan menjulang tinggi. Gedung tertinggi dunia Shanghai World Financial Centre setinggi 492 meter dibangun tahun 2008 banyak dikunjungi masyarakat dunia. Mau masuk dan naik di ketinggian tertentu gedung ini pun harus antre. Persis kalau kita ingin naik ke Twin Tower di Kuala Lumpur Malaysia dengan ketinggian 452 meter. Harus daftar dulu, beli tiket, baru naik ke puncak tower.
Oriental Pearl Television Tower yang dibangun dengan biaya sekitar USD 148 juta pada tahun 1995 itu, sampai saat ini sudah dikunjungi lebih dari 40 juta orang. Pemerintah Cina memang hebat dan bisnisnya pintar.
Dengan biaya USD 148 juta untuk membangun Oriental Pearl Television Tower sudah menghasilkan banyak uang. Harga tiket masuk dan naik ke TV Tower ini cukup mahal untuk ukuran orang Indonesia. Harga tiket untuk group 80Yuan atau sekitar Rp 120 Ribu per orang dengan kurs Yuan sekitar Rp 1400 /Yuan.
Ada kesamaan antara TV Tower dan Tugu Monas. Masyarakat dibawa naik ke puncak tower untuk melihat kota di sekitar tower.  Yang membedakan antara Tugu Monas dan TV Tower adalah pelayannya. Di dalam lift  TV  Tower wanita cantik dengan senyuman menyapa dengan bahasa Inggris dan bahasa mandarin. Tak lupa, wanita-wanita itu selalu harum saat memberi penjelasan sedikit detil tentang TV Tower dan kota baru Shanghai.
Liftnya bergerak halus, cepat dan ukurannya luas karena mampu mengangkut 20 orang. Sedangkan di Tugu monas liftnya bergerak lamban, terkadang macet dan petugas pria di dalam lift pelit senyuman. Di Tugu Monas kita dibawa di ketinggian sekitar 100 meter, sedangkan di TV Tower pada ketinggian 263 meter. Setelah itu kita di bawah ke sebuah tempat tertentu untuk melihat pemandangan bawah kita berdiri dari ketinggian tersebut. Kita disuruh berada di atas kaca sangat tebal yang tidak mungkin bisa pecah. Banyak yang menikmati pemandangan bawah tower dengan berfoto.(*)

Suasana Seperti di Malioboro
Pemerintah Cina tidak saja membangun kota moderen yang kaya bangunan menjulang tinggi, tapi juga sangat menjunjung tinggi budayanya. Peninggalan leluhur mendapat perawatan dan perlindungan sangat khusus.
Sebut saja Kota Lama di sepanjang Jl Nanjing Road. Antara Kota Baru dan Kota Lama itu hanya dipisahkan anak sungai Yang Tze. Sabtu dan Minggu jalan sepanjang 5,4 km ini bak lautan manusia. Ribuan orang berjalan dan bersuka ria di sepanjang Nanjing Road.
Kereta mini juga tersedia di Nanjing Road. Di Indonesia, kereta mini yang banyak disebut sebagai kereta kelinci ini biasa dijumpai di pertunjukkan pasar malam. Tapi keretan mini di Nanjing Road dikemas sangat bagus dan dikemudikan driver yang cantik. Naik kereta kelinci di sepanjang Nanjing Road tarifnya 20 Yuan atau sekitar Rp 30 Ribu.

Sayapun ikut larut dalam perjalanan kaki di sepanjang Nanjing Road. Mulai jam 4 sore hingga jam 7 malam waktu setempat. Sekadar untuk menikmati aneka warna pemandangan lampu malam di Nanjing Road dan sorot lampu sokle dari TV Tower.
Perjalanan di Nanjing Road mengingatkan saya saat berkunjung ke Hong Kong beberapa tahun lalu. Bedanya, yang jalan-jalan di Nanjing  Road  sebagian besar adalah penduduk lokal dan para turis, sedangkan di Holiday Park Hong Kong dipenuhi para tenaga kerja dari Indonesia, Piliphina dan Malaysia.
Nanjing Road berada di tengah bangunan kuno nan megah yang dibangun oleh pemerintah Inggris ketika menjajah Cina ratusan tahun yang lalu.
Kota tua ini  tampak bersih meskipun ribuan orang lalu lalang di Nanjing Road. Nanjing Road juga menjadi pusat perdagangan kota lama. Di jalan ini banyak pedagang yang menawarkan produk kepada pejalan kaki untuk melihat dagangan yang mereka jual di dalam gang kecil. Hiruk pikuk pengunjung Nanjing Road hampir sama dengan kawasan Malioboro di Jogjakarta. Bedanya  Jl Maliboro tidak memiliki kota tua sekelas kota tua Nanjing Road.(*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: