Sentra Batik Tanjung Bumi Bangkalan

Jumat, 18 Juni 2010 20:52
Daya tarik Pulau Madura atau yang lebih dikenal dengan Pulau Garam kian nyata setelah dioperasionalkannya jembatan Suramadu. Para wisatawan juga  semakin mudah mengunjungi daerah wisata yang diinginkannya. Jika tahun lalu orang harus mengantre dulu naik very dan membutuhkan waktu yang relatif lama untuk menyeberang, sekarang tidak lagi. Cukup sepuluh menit orang sudah menginjakkan kaki di tanah Madura melewati jembatan Suramadu sepanjang 5.438 meter yang menghubungkan antara pulau Jawa dan Madura itu. Berikut koresponden Malang Post Ihda Khairun Nissa dari Madura.

Banyak daya tarik wisatawan yang dapat dikunjungi di Madura, mulai dari pesona pantai, api tak kunjung padam, wisata ziarah hingga karapan sapinya. Namun, masih relatif sedikit yang mau berkunjung ke sentra batik Madura. Padahal, berkunjung ke daerah ini tak kalah eksotisnya saat melihat ragam motif batik cap maupun tulis yang ditawarkan di sana.
Nah, jika ingin berwisata ke pulau Madura, jangan lewatkan mengunjungi sentra batik Tanjung Bumi di Kabupaten Bangkalan. Atau mungkin bagi yang akan berencana sekadar melihat dan menyeberangi jembatan Suramadu secara langsung, sempatkan sejenak ke kampung batik Tanjung Bumi Bangkalan. Sentra batik ini letaknya 50 kilometer sebelah utara kota Bangkalan dan dapat ditempuh dengan mobil pribadi selama 45-60 menit. Namun, jika Anda menggunakan angkutan umum, dari kota Bangkalan ke Tanjung Bumi cukup merogoh kocek Rp 8.000 hingga Rp 10.000 sudah tiba di perkampungan batik Tanjung Bumi.
Apa sih istimewanya kampung batik ini, sehingga saya mau mereferensikan sebagai salah satu tujuan wisata? Kebetulan beberapa waktu lalu saya berkesempatan mengunjungi sentra batik Tanjung Bumi dalam kegiatan Studi Banding UKM Batik yang diadakan oleh Dinas Koperasi dan UKM Kota Malang. Di desa ini hampir semua warga bekerja sebagai perajin batik tulis. Menurut Kepala Sie Pengembangan UMKM Kabupeten Bangkalan, Panca Setiadi yang menemani perjalanan kami menjelaskan ada sekitar 900 perajin batik tulis yang ada di Desa Tanjung Bumi ini. Ketrampilan membatik ini sudah menjadi warisan secara turun menurun, sehingga sudah menjadi pemandangan yang wajar jika banyak remaja di desa tersebut mahir membatik.
Panca menceritakan wilayah Tanjung Bumi berdekatan dengan pantai, sehingga banyak warga yang bekerja sebagai nelayan. Konon ceritanya, sambil menunggu suami pulang dari berlayar ke daerah yang jauh, sang istri banyak yang mengisi waktu luangnya dengan membatik.
Kebanyakan motif yang dibuat yaitu motif batik tulis pesisir yang dipengaruhi oleh lingkungan dan letak geografisnya. Warna-warna khas batik tulis di daerah ini menggunakan warna-warna yang tajam atau ngejreng yang disesuaikan dengan karakter masyarakat Madura. Dahulu batik ini diperlakukan sebagai barang berharga layaknya emas atau tabungan dan diwariskan kepada anak cucu. Namun, seiring berjalannya waktu, batik sudah mulai dikomersialkan.
Di desa ini akan disuguhi berbagai macam motif dan corak batik khas Tanjung Bumi, seperti motif sisik Malaya, sekoh, sisik amparan, sarpoteh, panjikereng, panji suci, dan yang lainnya. Harganya pun terjangkau. Imej batik tulis mahal pun tak berlaku di sini. Jika kain batik cap dan printing dapat dibeli dengan harga minimal Rp 30 ribu perlembar, dengan ukuran perlembarnya 2-2,5 meter. Kain batik tulis dapat dibeli mulai dari harga Rp 45 ribu perlembar tergantung kualitas bahan dan hasil proses pembuatannya. Namun, dengan membeli kain batik tulis berkisar Rp 80 ribu hingga Rp 100 ribu pengunjung sudah bisa mendapatkan kain batik tulis yang lumayan bagus.
Selain para wisatawan dapat membeli oleh-oleh batik tulis dengan harga murah, juga dapat melihat secara langsung proses pembuatan batik tulis di rumah-rumah penduduk di desa ini. Mulai dari proses mencanting, pewarnaan, hingga pelorodan (meluruhkan malam yang menempel pada kain). Hampir setiap penduduk di desa Tanjung Bumi bekerja sebagai perajin batik tulis. Selain hasil produksinya dititipkan di beberapa showroom, kebanyakan para perajin rumahan ini sudah memiliki pelanggan tetap yang langsung memesan ke rumah mereka. (*)

Batik Gentongan Bisa Jutaan Rupiah
Di Desa Tanjung Bumi ini ada jenis batik tulis yang memiliki daya tarik tersendiri dan terkenal dibanding daerah lain, yaitu batik tulis Gentongan. Disebut Gentongan, karena proses pewarnaan batik ini direndam dalam wadah mirip gentong.
Berbeda dengan proses pewarnaan batik tulis umumnya yang menggunakan bak atau ember. Selain itu bahan pewarnaannya menggunakan bahan pewarna alami, yaitu menggunakan kulit pohon dan akar-akaran. Misalnya, kulit pohon jambal untuk warna kuning, warna merah bisa diambil dari kulit mengkudu, warna hijau dari kulit mundu dicampur tawas.
H Iskandar Zulkarnain, pengusaha batik sekaligus pemilik showroom batik Patimura menjelaskan, proses perendaman batik gentongan ini bisa menghabiskan waktu sebulan hingga setahun. Semakin lama direndam, semakin bagus dan kuat hasil proses pewarnaannya dan tentunya harganya semakin mahal. Selembar kain batik tulis gentongan bisa dijual dengan harga Rp 4 juta hingga Rp 5 jutaan. Jenis batik inipun dapat bertahan hingga puluhan tahun tanpa memudar warnanya. (*)
Jangan Lupa Lorjuk dan Singkong Tette
Setelah puas menikmati suguhan batik tulis Tanjung Bumi yang menawan, tak ada salahnya mencari makanan atau souvenir khas Madura sebagai oleh-oleh. Banyak toko oleh-oleh di Bangkalan yang menawarkan berbagai macam ciri khas daerah ini, salah satunya di pusat oleh-oleh khas Madura “Nusa Indah” yang terletak di Jalan K Moh Kholil. Mulai dari camilan, batik Madura, souvenir, hingga jamu tradisional tersedia di sini.
Untuk yang doyan camilan, jangan lewatkan untuk membeli keripik singkong tette dan rengginang lorjuknya. Untuk keripik singkong tette biasa dijual dengan harga Rp 6000 per kemasan, sedangkan keripik singkong tette teri dijual dengan harga Rp 7500 per kemasan.
Rengginang lorjuk dijual seharga Rp 14 ribu per kemasan. Makanan khas lain yang dapat dinikmati antara lain otok pedas dan kering, aneka ikan kering seperti terung, tripang, cumi, ikan asin dan tawar, dan lorjuk. Lorjuk adalah sejenis kerang yang hidup di pantai, bentuknya mungil, jika digoreng rasanya gurih dan sarat gizi. Camilan ini dijual dengan harga Rp 30 ribu per 400 gram.
Sedangkan untuk souvenir, dapat memilih berbagai jenis souvenir mulai dari baju sakera beserta odhengnya, kaos Suramadu, aneka pecut hias, aneka arit hias, patung karapan sapi, dan yang lainnya. Untuk pecut hias dijual dengan harga Rp 3000, arit seharga Rp 2500-6000 , dan patung karapan sapi berbahan fiber dijual dengan harga Rp 300 ribu. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: